468x60 Ads


kera sakti vs sh terate di jombang

November 13th, 2011 0 Comments
tawuran sh terate vs kera sakti
Tawuran antara perguruan silat terjadi di kawasan Kecamatan Kabuh Jombang. Akibat kejadian itu, lima orang anggota perguruan Kera Sakti dilarikan ke UGD (Unit Gawat Darurat) RSUD Jombang. Seluruh korban bersimbah darah karena menderita luka bacok di sekujur tubuh.
Subandi, petugas yang mengantar para korban ke RSUD Jombang mengatakan, tawuran terjadi pagi tadi sekitar pukul 08:00 WIB. Iring-iringan perguruan silat KS (kera sakti) sekitar delapan truk. Tiba di kawasan hutan Kabuh tiba-tiba keluar ratusan massa dari hutan. Mereka bersenjata celurit, pedang, serta batu.
Perang antar pendekar itu pun tak terhindarkan. Jerit kesakitan langsung pecah, darah mengucur. “Mereka berjumlah sekitar 300 orang, ada yang mengenakan seragam perguruan SH (Setia Hati) Terate,” kata Andik, pendekar KS yang selamat dari pengeroyokan ketika ditemui di RSUD Jombang.
Andik menceritakan, acara itu dalam rangka pengesahan anggota baru di Madiun. Sebanyak delapan truk itu merupakan warga Lamongan. Setelah acara usai, mereka kembali ke Lamongan. Namun naas, di kawasan hutan Kabuh Jombang, mereka dihadang ratusan orang yang diduga anggota SH Terate.
Selain Andik, empat anggota KS lainnya masih terbujut di ruang perawatan. Dari tubuh para pendekar itu terus mengeluarkan darah. Bahkan tidak jarang mereka mengerang kesakitan. “Kami merawat lima orang yang mengalami luka bacok,” ujar dr Dewi Nugraheni, dokter jaga di UGD RSUD Jombang.
Sementara itu, situasi di lokasi kejadin mulai mereda. Namun polisi terus siaga serta menyisir korban yang masih tersisa. Sedangkan, ratusan anggota Kera Saksi dievakuasi ke markas Satrad (Satuan Radar) 222 Kabuh Jombang.





9 Anggota Banser Diserang Ratusan Pesilat Setia Hati Terate

Buntut Pengeroyokan di Tulungagung, Ansor Jatim Siap Kerahkan Massa

Kamis, 31 Mei 2012 13:23 WIB
 
LENSAINDONESIA.COM: Acara jalan sehat dalam rangka Hari Lahir (Harlah) Nahdlatul Ulama (NU) ke-89 yang diikuti oleh mayoritas warga Nahdliyin dan seluruh anggota Badan Otonom di Tulungagung beberapa waktu lalu menyisakan masalah.
Diakhir kegiatan dilaporkan terjadi insiden pengeroyokan terhadap 9 anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) oleh 300 pendekar silat anggota Perguruan Setia Hati Terate (PSHT). Pertarungan tidak seimbang itu membuat Banser kocar-kacir dan mengalami luka bacok dan memar-memar di bagian tubuhnya.
Ketua PC GP Ansor Tulungagung, Drs Yoyok Mubarok mengatakan, kejadian pengeroyokan itu terjadi secara tiba-tiba.
Diceritakan, setelah mengikuti acara jalan sehat di Alun-Alun kota, seluruh peserta membubarkan diri sekaligus pulang ke daerahnya masing-masing. Termasuk rombongan peserta dari kecamatan Gondang yang terdiri dari Banser, pengurus NU dan para warga nadliyin yang tergabung dalam rombongan satu Truk. Selebihnya, mereka mangendarai Sepeda Motor juga menuju pos pemberangkatan awal, yaitu di rumah H. Umar (Ketua Ranting NU desa Wonokromo) dan langsung pulang ke rumah masing-masing.
Terdapat Sembilan anggota Banser yang masih istirahat dan belum pulang. Pada saat itu datanglah dua gerombolan orang yang berpakaian serba hitam lengkap dengan Badge PSHT dari dua arah yang berbeda.
“Mereka berjumlah sekitar 300 orang .”terang Yoyok kepada LICOM melalui selular, Kamis (31/5/2012).
Tiba-tiba saja, ratusan pesislat langsung melakukan penyerangan Banser dengan menggunakan berbagai macam senjata, seperti Pedang, Beton Eser, Linggis, Pompa besi dan Skrop.
Selain itu, beberapa benda tumpul lainnya seperti, batu bata Merah, kayu serta tongkat juga digunakan untuk menyerang para anggota Banser tersebut.
Akibat pengeroyokan itu, 3 personil Banser itu mengalami luka akibat bacok. Saat peristiwa itu, para korban sempat mengamankan diri dengan masuk ke dalam sebuah kamar. Numun, serangan PSHT tidak berhenti, mereka malah menggedor pintu kamar dengan menggunakan Pedang.
Karena tidak bisa masuk ke dalam kamar, para pesilat akhirnya melampiaskan kemarahan dengan merusak perabot kesekretariat Kantor Ranting NU. Akibatnya, sejumlah barang seperti tape recorder, meja, kursi, sepeda motor, papan nama ranting NU rusak parah. Selain itu, para pendekar PSHT juga melempari rumah Ketua
Ranting NU dengan menggunakan batu bata dan skrop.
Tiga anggota Banser yang mengalami luka-luka adalah, Rizal asal desa Sepaten kecamatan Gondang, Brilyan Kusuma Adri dari desa Kauman kecamatan Kauman dan Faras Kristianto asal desa Wonokromo kecamatan Gondang.
Rizal dan Brilyan akhirnya terpaksa dibawah ke RSI Tulungagung untuk mendapatkan perawatan intensif karena punggung dan pantatnya terluka
akibat sebetan benda tajam. Sedangkan Tujuh anggota lainnya hanya terkena luka bacok ringan dan beberapa bagian tubuhnya memar-memar.
Akibat kejadian ini seluruh jajaran Satkorcab Banser dan PC GP Ansor Tulungagung meminta polisi mengusut dan menagkap para pelaku. Banser dan PC Ansor juga menuntut pembubaran membekukan PSHT yang kerap membuat kerusuhan di Tulungagung.
“Kami juha meminta kepada Kapolres Tulungagung untuk melarang konvoi yang dilakukan oleh perguruan silat dari aliran apapun karena meresahkan masyarakat serta mengganggu ketertiban umum. Serta memohon kepada PBNU untuk mengeluarkan fatwa haram kepada warga NU untuk masuk kedalam perguruan silat SHT,” tegas Yoyok.
Ditempat terpisah, ketua PW GP Ansor Jatim, Ir. H. Alfa Isnaeni MSi mengancam bahwa pihaknya akan bergerak sendiri dilapangan jika polisi tidak mampu menyelesaikan tersebut secara adil dan transparan.
“Jika polisi tidak mampu menyelesaikan masalah ini, jangan salahkan kami jika melakukan tindakan sendiri.”tegasnya setengah mengancam.
Sampai berita ini diturunkan, ratusan hingga mencapai ribuan anggota Banser dan Pendekar Pagar Nusa bersiaga di kantor NU Tulungagung dan sekitarnya. Mereka siap menerima perintah ketuanya untuk melakukan tindakan-tindakan yang dipandang perlu demi menegakkan kebenaran dan nama organisasi dimana dia berada.*jani



Pasca bentrok, antar pendekar sepakat damai

E-mail Cetak PDF

berita-beritadotcom (Madiun, Jawa Timur): Pasca bentrok yang melibatkan ratusan pendekar dari dua perguruan silat terbesar di Madiun di Desa Prambon, kecamatan Dagangan, kabupaten Madiun, Minggu 13 Mei 2012 kemarin siang, kini suasana berangsur kondusif.

Untuk mencegah bentrok susulan antara perguruan silat Setia Hati Terate (SH-Terate) dengan Setia Hati Tunas Muda Winongo (SH-Winongo), Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika) Dagangan,  mengadakan pertemuan dengan pimpinan ranting dari dua perguruan silat yang bertikai di aula kantor kecamatan Dagangan, Senin (14/5/2012).

Menurut Kepala Desa Prambon, Widayati, selain mengundang dua pimpinan ranting dua perguruan pencak silat yang bertikai serta jajaran Muspika, turut pula diundang beberapa tokoh masyarakat dan tokoh agama.

Dalam pertemuan itu, disepati tiga butir kesepakatan. Pertama, sanggup menjaga situasi kondusif, kedua, kegiatan tahunan didakan dilapangan kecamatan dan harus ada ijin dari instansi terkait serta penghentian pembuatan tugu simbol perguruan. Kecuali di desa Prambon untuk SH-Terate.

"Semua dilibatkan dalam pertemuan. Mulai dari ketua ranting masing masing dua perguruan yang bentrok, tokoh agama, muspika, tokoh masyarakat dan unsur pemerintah desa. Mengenai masalah kerusakan rumah warga, akan dicarikan solusi untuk perbaikan", kata Widayati, kepada wartawan.

Setelah suasana kondusif, lanjut Widayati, ia mengharapkan adanya bantuan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Madiun maupun dari pihak yang bersengketa untuk membantu memperbaiki genting serta kaca rumah warga yang rusak. Alasannya, kalau pemerintah desa sangat tidak mungkin. Pasalnya tidak ada anggaran. Apalagi rumah yang rusak mencapai belasan.

Sementara itu, baik Ketua Ranting SH-Terate desa Prambon, Abdul Rohman, dan Ketua Ranting SH-Winongo, Makmun AR, menurut mereka kejdian itu diluar kendalinya. Alasannya, kejadian bentrok kemarin terjadi secara spontanitas.

Diberitakan sebelumnya, Minggu 13 Mei 2012 kemarin siang, ratusan pendekar dari SH-Terate dan SH-Winongo, bentrok di desa Prambon, kecamatan Dagangan. Dalam bentrok itu, selain mengakibatkan luka luka di kedua belah pihak, belasan rumah penduduk turut menjadi korban. (dib)

0 komentar:

Poskan Komentar